About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful.

Senin, 29 November 2010

tugas IBD

Tentang Impian dan cita-cita

Apa sih impian dan cita-cita itu? Banyak banget orang yang punya ini semua. Hampir semua orang punya impian dan cita-citanya. ada 2 tipe orang yang membuat cita-cita dan impian, yaitu, satu orang yang bener-bener percaya klo impian itu bisa dia capai dengan usahanya, yang satu lagi dia mempunyai impian tetapi dia tidak terlalu percaya klo dia bisa mencapai impian dan cita-citanya itu, dia hanya mengangan-angankan impian itu, tetapi tidak dibarengi dengan niat dan usahanya, itu bedanya. Nah sekarang mana sih yang kemungkinan besar akan tercapai ? ya jelas yang pertama, karena dia di barengi dengan usaha dan tekat yang kuat, klo dia bias mencapainya. Jadi arti impian dan cita-cita itu apa? Impian dan cita-cita adalah, suatu planning hidup seseorang yang ia inginkan ia dambakan untuk di masa depannya, agar kelak di masa depan ia dapat hidup sejahtera dari yang ia impikandan cita-citakan itu.

Sekarang tentang pribadi sendiri, apa yang saya impikan, dan saya cita-citakan? Tentunya saya mempunyai impian dan cita-cita untuk di masa depan,atw planning perjalanan hidup ingin gimana? Planning saya,impian saya, dan cita-cita saya adalah, cita-cita saya ingin menjadi pengusaha besar,dan bergelut dengan orang-orang bisnisman. Itu cita-cita saya, impian saya adalah,ingin mempunyai rumah yang mewah mobil yang mewah, dan istri seorang dokter..hehe, dan satu yang saya impikan juga, jika sudah begitu saya ingin jadi orang yang berpenampilan biasa,dan tidak sombong,dan juga hidup sejahtera dengan keluarga,sahabat,dan sakan saudara. Dengan impian dan cita-cita tersebut pastinya harus dengan menyusun planing dari sekarang agar semuanya dapat tarcapai, planing saya awal, kuliah yang bener, dan lulus dengan waktu yang tepat, dan dengan nilai yang bagus, setelah lulus mencari pekerjaan yang bagus, dengan uang yang didapat dari pekerjaan tersebut,sedikit di sisihkan untuk ditabung,dan uang tabungan itu jika sudah terkumpul banyak akan di gunakan membuat suatu usaha besar. Mungkin itu sedikit planing untuk mencapai impian dan cita-cita saya.

Minggu, 28 November 2010

tugas IBD


Ilmu budaya terhadap kemanusiaan

Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Ruth Benedict melihat kebudayaan sebagai pola pikir dan berbuat yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia dan yang membedakannya dengan kelompok lain. Para ahli umumnya sepakat bahwa kebudayaan adalah perilaku dan penyesuaian diri manusia berdasarkan hal-hal yang dipelajari/learning behavior (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ;1999).

Kebudayaan sifatnya bermacam-macam, akan tetapi oleh karena semuanya adalah buah adab (keluhuran budi), maka semua kebudayaan selalu bersifat tertib, indah berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, bahagia, dan sebagainya. Sifat kebudayaan menjadi tanda dan ukuran tentang rendah-tingginya keadaban dari masing-masing bangsa (Dewantara; 1994).

Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya: * Hidup-kebatinan manusia, yaitu yang menimbulkan tertib damainya hidup masyarakat dengan adapt-istiadatnya yang halus dan indah; tertib damainya pemerintahan negeri; tertib damainya agama atau ilmu kebatinan dan kesusilaan. * Angan-angan manusia, yaitu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan kesusilaan. * Kepandaian manusia, yaitu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994). Ki Hajar Dewantara mendefinisikan kebudayaan sebagai kemenangan atau hasil perjuangan hidup, yakni perjuangannya terhadap 2 kekuatan yang kuat dan abadi, alam dan zaman.

Kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus menerus berganti-gantinya alam dan zaman. (Dewantara; 1994). KEBUDAYAAN NASIONAL Kebudayaan Nasional Indonesia adalah segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang bernilai di seluruh kepulauan, baik yang lama maupun yang ciptaan baru, yang berjiwa nasional (Dewantara; 1994). Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu tak ada Kebudayaan Nasional. Itu tidak berarti Kebudayaan Nasional sekadar penjumlahan semua budaya lokal di seantero Nusantara. Kebudayan Nasional merupakan realitas, karena kesatuan nasional merupakan realitas.

Kebudayaan Nasional akan mantap apabila di satu pihak budaya-budaya Nusantara asli tetap mantap, dan di lain pihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna oleh seluruh warga masyarakat Indonesia (Suseno; 1992). Dalam pasal 32 UUD 1945 dinyatakan, “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai Kebudayaan Bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia” (Atmadja, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).

SITUASI BUDAYA INDONESIA

Dalam pemaparan tentang akar budaya di atas tadi telah kita ketahui bahwa nenek moyang kita adalah nenek moyang yang tangguh dan bangsa ini telah mampu melakukan akulturasi secara positif sehingga kita bisa mengintegrasikan kebudayaan luar untuk meningkatkan budaya sendiri. Namun kita harus melihat secara riil bagaimanakah keadaan budaya kita hari ini. Sajiman Surjohadiprojo dalam pidato kebudayaannya di tahun 1986 menyampaikan tentang persoalah kita hari ini, yaitu kurang kuatnya kemampuan mengeluarkan energi pada manusia Indonesia.

Hal ini mengakibatkan kurang adanya daya tindak atau kemampuan berbuat. Rencana konsep yang baik, hasil dari otak cerdas, tinggal dan rencana dan konsep belaka karena kurang mampu untuk merealisasikannya. Akibat lainnya adalah pada disiplin dan pengendalikan diri. Lemahnya disiplin bukan karena kurang kesadaran terhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku, melainkan karena kurang mampu untuk membawakan diri masing-masing menetapi peraturan dan ketentuan yang berlaku. Kurangnya kemampuan mnegeluarkan energi juga berakibat pada besarnya ketergantungan pada orang lain. Kemandirian sukar ditemukan dan mempunyai dampak dalam segala aspek kehidupan termasuk kepemimpinan dan tanggung jawab. Menurut beliau kelemahan ini merupakan Kelemahan Kebudayaan. Artinya, perbaikan dari keadaan lemah itu hanya dapat dicapai melalui pendekatan budaya. Pemecahannya harus melalui pendidikan dalam arti luas dan Nation and Character Building (Surjohadiprodjo, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).

Mochtar Lubis juga dalam kesempatan yang sama saat Temu Budaya tahun 1986, menyampaikan bahwa kondisi budaya kita hari ini ditandai secara dominan oleh ciri: 1. Kontradiksi gawat antara asumsi dan pretensi moral budaya Pancasila dengan kenyataan. 2. Kemunafikan. 3. Lemahnya kreativitas. 4. Etos kerja brengsek. 5. Neo-Feodalisme. 6. Budaya malu telah sirna ( Lubis, 1999).

Sumber : http://hojotmarluga.wordpress.com

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ridho Rahmadhan. Diberdayakan oleh Blogger.


Get your own Digital Clock